Hasil Penelitian

Identifikasi Protein Bovine Lymphocyte Antigen Klas II Peranakan Ongole, sapi bali dan Sapi Madura

(IDENTIFICATION OF THE PROTEINS CLASS II OF BOVINE LYMPHOCYTE ANTIGEN IN ONGOLE CROSS BREED, BALI AND MADURA CATTLE)

Ni Ketut Suwiti

Laboratorium Histologi,

Fakultas Kedokteran Hewan-Universitas Udayana

E-mail : nksuwiti@yahoo.co.id

ABSTRAK

Identifikasi protein Bovine Lymphocyte Antigen Klas II, dilakukan terhadap sapi bali, Peranakan Ongole dan sapi madura. Keberadaan protein diperiksa dengan metode Western-Immunoblotting (WB), menggunakan antibodi monoklonal BAQ 150A dan H34A. Protein Bovine Lymphocyte Antigen sebelumnya dianalisis dengan SDS-PAGE (sodium duodecyl sulfate-polyacrylamide gel elektrophoresis) kemudian divisualisasikan melalui pemunculan band pada kertas nitroselulosa.

Protein khas Bovine Lymphocyte Antigen Klas II pada sapi bali: 25 kDa, sedangkan protein bovine MHC sapi Peranakan Ongole (PO): 26 kDa dan sapi madura 26 kD Studi ini dapat dipakai sebagai dasar dalam penelitian menentukan fungsi masing-masing protein bovine MHC dengan kerentanan terhadap penyakit.

Kata kunci : Bovine Major Histocompatibility Complex , Sapi Bali, Sapi Perakan Ongole, Sapi madura, Western- immunoblotting, SDS-PAGE, Antibodi monoklonal.

ABSTRACT

The identification of the class II protein Bovine Lymphocyte Antigen in Bali, Ongole crossbreed and Madura Cattle, was identified by Western-Immunoblotting, using B5C, BAQ 150A and H34A monoclonal antibodies. The protein were analysed by sodium dodecyl sulphate-polyacrylamide gel electrophoresis (SDS-PAGE) and the protein bands were visualysed by bands in nitroselulosa paper

The result showed that a three specific poteins of Bovine Lymphocyte Antigen Klas II were found, designated as : Bali cattle I: 25 kDa, Ongole cross breed : 26 kDa and madura cattle : 26 kD.

This studi provides a basis for futher of the role of each proteins Bovine MHC with disease susceptibility.

Keywords: Bovine Major Histocompatibility Complex, Bali cattle, Ongole Cross Breed cattle, Madura cattle, Western-Immunoblotting, SDS-PAGE, Monoclonal antibodies,

Characterization the proteins of Bovine Lymphocyte Antigen (BoLA) was identified by SDS-PAGE, was performed on a 10% slab gel according to the method of Laemmli. Five teen Bali cattle, Ongole cross breed and Madura cattle were used in the study, the experiment design used was completely randomized design.

The result showed that : there was a significant different (P ‹ 0,05) between molecular weight the protein of Bovine Lymphocyte Antigen of Bali cattle, Ongole cross breed and Madura cattle. This studi provides a basis for further determination of the proteins BoLA of each cattle.

Key words : SDS-PAGE, Bovine Lymphocyte Antigen (BoLA), Bali cattle, Ongole cross

breed and Madura cattle.

PENDAHULUAN

Imunogenetik adalah konsep pendekatan genetik yang mengendalikan perbedaan reaktivitas respons imun dan kerentanan tubuh terhadap suatu penyakit (Judajana dkk., 1997). Kendali genetik tersebut akan menentukan perbedaan reaktivitas imun pada setiap individu dalam suatu populasi sehingga berpengaruh terhadap ketahanan dan kerentanan individu terhadap penyakit (Angyalosi, dkk., 2001). Salah satu lingkup imunogenetik tersebut adalah sistem Major Histocompatibility Complex (MHC).

MHC atau Antigen histokompatibilitas utama adalah antigen yang terdapat pada sel limfosit yang bersifat lebih imunogenik dibandingkan antigen lainnya. Antigen ini ditemukan pertama pada leukosit darah, oleh karenanya ditandai dengan huruf L (leukosit) yang didahului dengan jenis hewan dimana antigen tersebut ditemukan. Akhirnya Lewin dkk., (1999) menyepakati, MHC yang ditemukan pada sapi (Bos taurus dan Bos indicus) disebut Bovine Lymphocyte Antigen (Tizard, 1995).

Bovine Lymphocyte Antigen atau antigen limfosit sapi merupakan glikoprotein, dibedakan atas tiga klas yaitu : klas I, klas II dan klas III, dan setiap klas mempunyai peranan yang berbeda-beda. Peranan keseluruhan antigen BoLA adalah menentukan kemampuan individu untuk membedakan self dan non-self, mengatur interaksi fungsi imunitas, karena peranan tersebut maka disebut dengan immune response associated antigen. Sifat polimorphismenya BoLA menyebabkan kemampuan setiap individu untuk bereaksi terhadap antigen berbeda-beda dan sangat spesifik pada setiap individu, seperti kerentanan sapi bali terhadap penyakit jembrana.

Kerentanan sapi bali terhadap penyakit jembrana dapat dipengaruhi oleh sifat polimorphisme protein BoLA tersebut, karena sangat ditentukan oleh urutan asam amino yang membentuk celah pengikat peptida dan celah tempat berinteraksi dengan peptida antigen maupun dengan reseptor sel T (Davenport dan Hill, 1996). Dari hasil penelitian hanya sapi bali yang dinyatakan rentan terhadap penyakit jembrana, sedangkan sapi breed lainnya seperti Frisien Holstein (FH) atau sapi madura dinyatakan tahan terhadap virus penyebab penyakit jembrana.

Dari permasalahan tersebut kemungkinan ada perbedaan imunogenetik antara ketiga breed sapi tersebut. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian untuk mengidentifikasi ketiga breed sapi tersebut melalui analisis terhadap system MHC.klas II, khususnya dalam hal menentukan berat molekul proteinnya. Hasil penelitian ini diharapkan dapat mengungkapkan perbedaan imunogenetik antara sapi bali, Peranakan Ongole (PO) dan sapi madura.

MATERI DAN METODE

Isolasi Limfosit

Isolasi limfosit dilakukan terhadap 25 sample darah (whole blood) diambil dari sapi madura di Desa Bangkalan, Pulau Madura, mengikuti metode Wareing, (1996) dengan cara: sample berupa darah dipusingkan (3000 rpm, 15mn). Dengan menggunakan pipet Pasteur, lapisan sel darah putih yang terbentuk dipisahkan, kemudian dimasukkan ke dalam tabung yang berisi RPMI. Campuran larutan tersebut dimasukkan ke dalam tabung yang berisi 5 ml larutan ficolhipaque kemudian dipusingkan (3000 rpm, 30 mn). Lapisan yang terbentuk pada perbatasan (interface) dipindahkan ke dalam tabung yang mengandung 7ml PBS, selanjutnya dipusingkam (1250 rpm, 15 menit). Supernatan dicuci dua kali dengan PBS, selanjutnya limfosit dipanen dengan cara membuang supernatannya.

Preparasi Sampel untuk Elektrophoresis.

Sebelum melakukan elektrophoresis terlebih dahulu dilakukan Frez-thawing terhadap sampel berupa limfosit sebanyak tiga kali. Selanjutnya ditambahkan dengan 500 ml lisis buffer, dan didiamkan pada –20oC, selama 30 menit. Campuran limfosit dan lisis bufer kemudian dipusingkan (5000 rpm,15mn). Supernatan yang terbentuk diambil sebanyak 50 ml dimasukkan kedalam tabung dan ditambahkan dengan 50 ml buffer, selanjutnya dipanaskan dalam air mendidih (100oC, 5menit). Sampel ini selanjutnya dipergunakan bahan untuk elektrophoresis

Pemisahan dan isolasi protein dilakukan dengan sodium dodecylsulfate-polyacrylamide gel electrophoresis (SDS-PAGE) memakai alat Protean II Apparatus (Bio-Rad). Pita hasil elektrophoresis yang terbentuk dan dicurigai sebagai protein bovine-MHC diisolasi, dengan cara dipotong mengunakan skalpel steril dan dihancurkan, kemudian dimasukkan ke dalam dialisis bag untuk proses elektroelusi, dengan menggunakan alat electro-eluter (Bio-Rad). Protein hasil elektroelusi ini dipergunakan sebagai sampel untuk menentukan berat molekul protein bovine-MHC klas I dan klas II sapi madura.

Deteksi Protein Bovine-MHC

Untuk menentukan keberadaan protein bovine-MHC dipergunakan metode Western-Immunoblotting (WB), yaitu dengan cara : protein hasil elektroelusi dielektrophoresis dalam gel polyacrilamid menggunakan 12,5% separating gel dan 4% loading gel. Selanjutnya protein di dalam gel ditransfer kedalam membran nitroselulosa, membran diblok dengan bovine serum albumin (BSA) 1% dalam phosphate buffered saline (PBS), dan untuk menentukan protein bovine-MHC dilakukan penambahan antibodi monoklonal B5C untuk Bovine-MHC klas I, dan BAQ150A untuk bovine-MHC klas II (VMRD,Pullman.USA), selanjutnya dideteksi dengan goat antimouse IgG-biotin. Untuk mengetahui berat molekul protein divisualisasi dengan penambahan substrat diazino-benzidine (DAB,Sigma chemical co. USA).

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil penelitian menunjukkan protein antigen limfosit bereaksi positip berikatan dengan antibodi, yang ditandai munculnya band pada kertas nitroselulosa dengan pemeriksaan Western-Imunoblotting. Perunutan reaksi antigen antibodi dengan berat molekul antigen limfosit sapi Bali: 47 kD,11 kD (BoLA klas I rantai a,b) dan klas II: 25 kD (rantai b). Sapi peranakan Ongole klas I : 45 kD(rantai a) , 12 kD (rantai b) dan klas II: 26 kD (rantai a) dan sapi Madura klas I: 48 kD, 11kD (rantai a,b ), dan klas II: 26 kD (rantai b).

Hasil penelitian menunjukkan protein antigen limfosit bereaksi positip berikatan dengan Monoklonal antibodi (MoAb) BoLA klas I serotipe B5C dan klas II serotipe BAQ150A, H34A yang ditandai munculnya band pada kertas nitroselulosa dengan pemeriksaan Western-Imunoblotting. Perunutan reaksi antigen antibodi dengan berat molekul antigen limfosit sapi bali: 47 kD,11 kD bersesusian dengan BoLA klas I rantai a & b, 25 kD bersesuaian dengan BoLA klas II rantai b.

Hasil penelitian menunjukkan protein antigen limfosit bereaksi positip berikatan dengan Monoklonal antibodi (MoAb) BoLA klas I serotipe B5C dan klas II serotipe BAQ150A, H34A yang ditandai munculnya band pada kertas nitroselulosa dengan pemeriksaan Western-Imunoblotting. Perunutan reaksi antigen antibodi dengan berat molekul antigen limfosit sapi bali: 47 kD,11 kD bersesusian dengan BoLA klas I rantai a & b, 25 kD bersesuaian dengan BoLA klas II rantai b.

Hasil penelitian menunjukkan protein antigen limfosit bereaksi positip berikatan dengan Monoklonal antibodi (MoAb) BoLA klas I serotipe B5C dan klas II serotipe BAQ150A, H34A yang ditandai munculnya band pada kertas nitroselulosa dengan pemeriksaan Western-Imunoblotting. Perunutan reaksi antigen antibodi dengan berat molekul antigen limfosit sapi bali: 47 kD,11 kD bersesusian dengan BoLA klas I rantai a & b, 25 kD bersesuaian dengan BoLA klas II rantai b.

Antigen BoLa klas II terdiri dari dua ikatan non kovalen dengan dua rantai polipeptida. Rantai polipeptida tersebut adalah rantai alfa (31 kD s/d 34 kD) dan rantai beta (26 kD s/d 29 kD)). Kedua ujung rantai tersebut diakhiri dengan NH2 dan COOH. ( Margaret, dkk., 1997).

Penelitian Ababou dkk. (1994) dengan metode Imunopresipitasi, memperoleh BM protein berkisar antara 33 kD yang bersesuaian dengan rantai alfa, dan 29 kD yang bersesuaian dengan rantai beta. BM protein antigen limfosit sapi klas II yang diisolasi dari leukosit, berkisar antara : 32 kD s/d 34 kD untuk rantai a dan rantai b: 26 kD s/d 29 kD (Bernadette dkk., 1993). Koufman dkk. (1994) menyatakan MHC klas II rantai a: 33 kD-35 kD dan rantai b: 26-29 kD. Variasi berat molekul rantai alfa dan rantai beta berkisar antara 41 dan 25 kD, sedangkan Jonathan dkk. (1994) mengatakan BM protein MHC klas II rantai beta mencapai 45 kD.

Berat molekul protein antigen limfosit sapi ini bersesuaian dengan yang diperoleh pada penelitian Ababou dkk. (1994). Sedangkan menurut Abbas (1991) berat molekul protein MHC klas I rantai a pada human mencapai 44 kD dan pada mice 47 kD, dengan BM rantai b 12 kD, jadi BM protein yang diperoleh pada penelitian ini bersesuaian dengan penelitian terdahulu.

Bernadette dkk., (1993) memfokuskan diri mempelajari perbedaan ekspresi dari Bovine limfosit klas II, dari empat monoklonal antibodi dengan menggunakan SDS-PAGE 12% dan metode imunohistokimia. Empat MoAb yang dipergunakan adalah: UC-A4., UC-D3, UC-H9 dan IL-A21 pada tiga ekor sapi sehat dan tiga ekor sapi sakit yang menderita PL (Persisten lymphositosis). UC-H9 dan UC-D3 selalu bereaksi negatip terhadap antigen yang diperiksa, sedangkan UC-A4 dan IL-A21 memberikan hasil yang bervariasi, artinya kadang muncul band dan kadang tidak. Pada pemeriksaaan dengan menggunakan metode imunositokimia ke empat MoAb memmberikan reaksi positip, dengan rataan sebagai berikut : UC-A4 (19,4±3), UC-D3 (21,5±3), UC-H9 (28,9±3) dan IL-A21 (27±3).

Perbedaan hasil yang ditunjukkan pada kedua metode tersebut, disebabkan karena perbedaan sel (organ) yang dipergunakan pada sistem imun dan variasi protein MHC klas II. Pada manusia (Human) juga ditemukan hal yang sama, yakni terdapat perbedaan ekspresi HLA pada monosit, dan sebagian besar monosit dewasa mengekspresikan molekul HLA-DR dan HLA-DP.

Variasi berat molekul tersebut membuktikan perbedaan imunogenetik diantara sapi-sapi tersebut, hal ini disebabkan setiap populasi sapi mempunyai latar belakang dan pola MHC yang unik dan sangat berbeda.

KESIMPULAN

Berat molekul protein antigen limfosit sapi bali klas I : 47 kD (rantai a) dan 11 kD (rantai b) dan klas II: 25 kD (rantai a), sapi peranakan ongole klas I : 45 kD (rantai a) dan 12 (rantai b) klas II: 36 kD (rantai a) dan sapi madura klas I: 48 kD (rantai a) dan 11 kD (rantai b) klas II: 26 kD (rantai a).

UCAPAN TERIMAKASIH

Ucapan terimakasih disampaikan kepada Prof. Dr. PG Konthen, dr. SpPD, Prof. drh. IGB Amitaba, Dr Irwan Setiabudi, SpPK selaku promoter dan ko-promotor, dan Prof.Dr. Fedik Abdul Rantam, drh. Atas bimbingannya. Tulisan ini adalah sebagian penelitian untuk disertasi pada PPs Unair Surabaya. Direktur Tropical Disease Center (TDC) Universitas Airlangga, Prof. Dr. Yoes Priyatna Dahlan,dr.MSc. atas izin dan perkenan beliau dapat memanfaatkan Lab. Dengue sebagai tempat penelitian.

DAFTAR PUSTAKA

Ababou A, Goyeneche J, Davis WC, Levy D, 1994. Evidence for the expression of three different BoLA-class II molecules on the bovine BL-3 cell line: determination of a non-DR non DQ gene product. J.Leuk. Biol. 56. 182-186.

Abbas AK, Litchman AH, Pober JS, 1991. Celluler an Moleculer Immunology. Sounders Company. Pp. 19-347.

Angyalosi G, Neveb R, Wolowczuk I, Delanoye A, Herno J, Auriault C, 2001. HLA class II polymorphism influences onset and severity of pathology in Schistosoma mansoni-infected transgenic mice. Infect Immun. 69(9):5874.

Bernadette C, Taylor K, Yeon C, Robert JS, Peter FM, Jefrey LS, 1993. Diffrential Expression of Bovine MHC Class II Antigen Identified by Monoclonal Antibodies. J.Leuc.Biol. (53) 479-489.

Daniel, P. AI. Stites, G. Tristram, Parslow. 1997. Medical Immunology 9th. Appleton & Largw. A Simon & Schuter. Company. Printed in the United States of America. Pp. 85-181.

Goldsby RA, Kindt TJ, Osborne BA, 2000. Overview of The Immune System in Kuby Immunology 4 th ed New York. W.H. Freeman and Company. Pp.3-26.

Jonathan M, Austyn, Kathryn J, Woood, 1994. The major Histocompatibility Complex. In Principles of Cellular and Molecular Immunology. Publised in The United States by Oxford University Press Inc. New York. Pp.65-112.

Kaufman, JF., C. Auffray, AJ. Korman, DA. Shackelford, J. Strominger. 1993. The Class II Molecules of The Human and Murine Major Histocompatibility Complex. J. Cell. 36.1-4.

Laemmli, UK. 1970. Cleavage of StructuralProteins During The Assembly of Head of Bacteriophage. 227,680-685.

Lewin HA, Russell GC, Glass E, 1999. Comparative organization and function of the major histocompatibility complex of domesticated cattle. Immunological Revieews.Vol.167:145-158.

Margaret, GP. KM. Coggeshall, SJ. Leislie, JL. Pat. 1997. Bovine Luteal Cells Elicit Major Histocompatibility Complex Class II Dependent T-Cell Prolifration. J. Biol. Of Repro. Pp 887-893.

Scheherazade, SN dan Germain, RN. 1992. How MHC Class II Molecules Work Peptide-Dependent Completion of Protein Folding. J Immunol Today. 13. 2:43-46.

Stell RGD dan Torrie RGD, 1991. Principles and Procedures of Statistic 2 nd ed Mc Graw Hill Book Co New York.

IMUNOGENETIK

1

Analisis 12 lokus mikrosatelit pada genom sapi bali (Analysis of 12 microsatelite loci in bali cattle genome) /Winaya,A. Muladno, Tappa,B – Malang. Universitas Muhammadiyah Malang .PusatBioteknologi Pertanian..2000.

Abstrak:

Polymorphis dari penandaan 12 mikrosatelit (BM 2113, CSSM 66, ETH 10,ETH 152, ETH 152, HEL I, HEL 5, ILSTS, INRA 023, INRA 032 AND INRA 035) telah dipelajari pada sapi Bali (Bos sondaicus). Contoh DNA diekstak dari 25 sapi Bali dimana digunakan sebagai prominen material PCR amplification telah dilakukan menggunakan 12 pasang dari pinggiran primer atas mikrosatelit. Produksi PCR dimana tersebar dengan 6 persen polycrylamide gel electrophoresis. Metode pewamaan perak telah digunakan untuk mendeteksi alel dari setiap lokus. Hasil memperlihatkan bahwa dari analisa 12 lokus mikrosatelit, rata-rata nomor dari tiap alel ialah 1.83, dengan nomor tertinggi dari alel ialah 3 dan nomor terendah dari alel ialah 1. Variable genotif rendah diantara populasi sapi Bali menegaskan begitu menghalangi tingkat kemumian pemeliharaan.

Abstract:

Polymorphisms of 12 microsatellite markers (BM 2113, CSSM 66, ETH 10, ETH 152, ETH 152, HEL I, HEL 5, ILSTS, INRA 023, INRA 032 AND INRA 035) have been studied I Bali cattle (Bos sondaicuss). DNA samples extracted from 25 Bali cattle were used as prominent materials PCR amplifications have been done using 12 pairs of primer flanking the above microsatellites. PCR products were separated by 6 persen polycrylamide gel electrophoresis. The silver staining method was used to detect alleles of each locus. The result showed that from 12 microsatellite loci analyzed, the average number of alleles was 1.83, with the highest number of alleles was 3 and the lowest number of alleles was 1. Low genotype variability within Bali cattle population suggested thar Balk breed has level of purity.

2

Analysis of genetic diversity of domestic cattle and east and sourthast asia in term of variations in restrictions sites and sequences of mitokhondrial DNA/ Kikkawa-Y, Amano-T; Suzuki-H.1995.

ABSTRACT:

Restriction fragment length polimorphism analysis was carried out on mitochondrial DNA of Bali cattle and cattle of European and Zebu breeds, using 10 restriction enzymes. Each ofg the 3 groups of cattle was shown to have a specific haplotype for mitochondrial DNA. The mitochondrial gene for cytokrome was sequenced from representative haplotypes of zebu and bali cattle, and was compared with the sequence reported in the literature for European cattle. There were 51 pairwise nucleotida sequence differences between European and zebu cattle, and 91 between European and zebu cattle. The result suggest that ancestral populations of Asiatic cattle may have diverged into 2 lineages, Bali and European/zebu, more than 3 million years ago, and that the european and zebu group diverged more than 1 million years before domestication occured.

3

Hybridiybridization of banteng (Bos javanicus) and zebu (Bos.indicus) revealed by mitochondrial DNA, satellite DNA, AFLP and microsatellite / IJ. Nijman, M. Otsen, ELC.Verkaar, C. De Ruijter, E.Hanekamp, JW. Ochieng, S.Shamshad, JEO Rege, O Hanotte, MW Barwegen, T. Sulawati and JA. Lenstra

ABSTRACT:

Hybridization between wild and domestic bovine species occurs worldwide either spontaneously or by organized crossing. We have analysed hybridization of Banteng (Bos javanicus) and zebu (Bos indicus) in south-east Asian cattle using mitochondrial DNA (PCR-RFLP and sequencing), AFLP, satellite fragment length polymorphisms (SFLP or PCR-RFLP of satellite DNA) and microsatellite genotyping. The Indonesian Madura zebu breed is reputed to be of hybrid zebu-banteng origin, but this has never been documented and Ball cattle are considered to be a domesticated form of banteng.

The banteng mitochondrial type was found in all animals sampled on the isle of Bali, Indonesia, but only in 35% of the animals from a Malaysian Bali-cattle population. The Madura animals also carried mitochondrial DNA of either zebu and banteng origin. In both populations, zebu introgression was confirmed by AFLP and SFLP. Microsatellite analysis of the Malaysian Bali population revealed for 12 out of 15 loci screened, Bali-cattle-specific alleles, several of which were also found in wild banteng animals.

The tools we have described are suitable for the detection of species in introgression studies, which are essential for the genetic description of local breeds and the preservation of their economic and cultural value.

4

Kontribusi genetik sapi bali pada keturunan cross- breeding dengan sapi eropa /Fatchiyah 1 Herliantien2, S. Rahayu1, G. Ciptadi3, E. Herwiyanti2, J. Pudjianto2, Dj. Hedah2, SB Sumitro11Fakultas MIPA Unibraw, 2BIB. Singosari. 3Fak. Peternakan Unibraw

ABSTRAK:

Sapi bali merupakan sapi asli Indonesia sebagai hasil domestikasi dan banteng. oleh karena itu, diharapkan di masa yang akan datang sapi bali akan menjadi primadona utama sebagai sumber sapi potong unggulan di Indonesia. Akan tetapi terjadinya kawin silang sapi bali dengan sapi sapi dari eropa menimbulkan perubahan karakter-karakter genetik yang berbeda dengan induknya.

Penelitian ini bartujuan untuk menguji seberapa besar terjadinya perubahan konstribusi genetik antara sapi bali terhadap sapi eropa, serta menguji kekerabatan di antara sapi bali dengan banteng serta sapi basil kawin silang. Metode yang digunakan sample darah yang diisolasi dengan metode salting out. Isolat DNA total yang diperoleh dianalisis dengan teknik RFLP dengan menggunakan enzirn retriksi Pstl, EcoR1 dan Avall. Kemudian potongan pita DNA yang diperoleh direkonstrusi fenogram dan kladogramnya, untuk mengetahui kekerabatan di antaranya.

Hasil penelitian menunjukan sapi bali maupun banteng membawa karakter tetap yang selalu muncul pada setiap generasi sapi keturunanya. Variasi genetik pada sapi kawin silang selalu terdeteksi adanya konstribusi polimorfik dan sapi eropa, Dengan demikian meskipun ciri-ciri genetik sapi bali tetap ada pengaruh nyata unsur genetik sapi eropa cukup besar,

5

Pemetaan genom sapi bali : strategi awal dan upaya memproduksi “Tandemly Ripiated Sequences” dan “Interspearce repetitive Sequences” sebagai penciri DNA (marker) / Muladno – Bogor. Lembaga Penelitian. PAU Bioteknologi IPB.

ABSTRAK:

Enam belas pasang primer pengapit mikrosatelit telah dianalisa pada genom bangsa sapi bali dan beberapa bangsa sapi lain seperti sapi madura, peranakan ongole simmental, Brangus dan Limousin sebagai pembanding. Hasil penelitian telah dilaporkan dan sebagian disajikan data dalam seminar Nasiosal Bioteknologi LIPI. Pada tahun anggaran 2000/2001, selain analisa ke 16 primer tersebut masih dilanjutkan untuk mendapatkan hasil yang lebih valid lagi, target utamanya adalah menguji kestabilan alel mikrosatelitpada pupulasi sapi hasil persilangan dan menyusun pohon filogeni seluruh sapi lokal Indonesia yang telah dianalisa tersebut

Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat diungkap potensi genetik sapi bali beserta sapi lokal lainya, kespesifikan alel dari niasing-masing bangsa sapi dalam upaya mengindentifikasi gen penyusun sifat-sifat kuantitatif bernilai ekonomis.

6

Penentuan protein antigen limfosit sapi yang berasal dari sapi bali dan sapi peranakan ongole (Determination of the protein of bovine lymphocyte antigen, of bali cattle and ongole cross breed cattle) / Ni Ketut Suwiti 1; Fedik Abdul Rantam2 1. Laboratorium Histologi Veteriner, FKH.Unud 2. Laboratorium Virologi FKH Unair. 2002.

ABSTRAK:

Penentuan protein antigen limfosit sapi (BoLA) yang berasal dari sapi bali dan peranakan ongole (PO) dilakukan dengan uji western immunoblotting, menggunakan antibodi monoklonal. Protein khas BoLA sebelumnya dipisahkan dengan sodium dodecyl sulphate-gel electrophoresis, kemudian dipindahkan pada kertas nitroselulosa dan divisualisasikan dengan antibodi monoklonal dan substrat DAB.

Terdapat tiga protein khas antigen limfosit sapi , pada sapi Bali adalah : 48 kD, 25 kDa dan 11 kDa, sedangkan pada sapi PO adalah : 45 kDa, 26 kDa dan 12 kDa. Studi ini dapat dipakai sebagai dasar dalam penelitian tentang fungsi masing-masing protein dalam proses kerentanan terhadap penyakit.

ABSTRACT:

Determination of the protein of Bovine Lymphocyte Antigen (BoLA) of bali cattle and cross breed Ongole cattle, was identified by western-immunoblotting, using monoclonal antibodies. The protein were separated by sodium dodecyl sulphate-gel electrophoresis (SDS-PAGE) and the protein bands were transferred on to nitroselulosa, and visualysed using MoAb and DAB substrate.

There are three specific BoLA poteins designated as : 48 kD, 25 kDa and 11kDa in Bali cattle and 45 kDa, 26 kDa and 12 kDa in Ongole cross breed cattle. This study provides a basis for further study of the role of each BoLA protein in disease susceptibility.

DETEKSI FENOTIFIK ANTIGEN LIMFOSIT SAPI BALI

DENGAN METODE IMUNOSITOKIMIA

Oleh :

IN.Kerta Besung1, W. Piraksa2, IB Oka Winaya3

1Lab. Mikrobiologi, 2Lab. Histologi, 3Lab. Patologi

RINGKASAN

Sapi bali memiliki peranan penting di Indonesia, tetapi ada masalah besar di dalam pengembangannya karena rentan terhadap penyakit Jembrana, penyakit ini bersifat endemik di Bali, Kalimantan, Jawa dan Sumatra. Penelitian menunjukkan bahwa Antigen Limfosit berperan dalam ketahanan dan kerentanan terhadap suatu penyakit.

Deteksi fenotifik antigen limfosit sapi adalah salah satu cara untuk mengungkapkan permasalahan dengan konsep imunogenetik, yakni suatu konsep pendekatan genetik yang mengendalikan perbedaan reaktivitas respons imun dan kerentanan tubuh terhadap suatu penyakit. Antigen limfosit sapi disebut juga Major Histocompatibility Complexs (MHC) atau BoLA (Bovine Lymphocyte Antigen) adalah salah satu antigen permukaan yang terdapat pada sel – sel berinti, terutama sel limfosit. Bersifat lebih imunogenik dibandingkan dengan antigen permukaan yang lain. Dibedakan atas tiga klas yaitu MHC klas I, klas II dan klas III.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui ekspresi BoLA pada sapi bali dan dibandingkan dengan ekspresi fenotifik sapi madura. Ekspresi antigen limfosit sapi di identifikasi dengan menggunakan metode Imunositokimia yang divisualisasikan dengan antibodi monoklonal klas II (BAQ150A dan H43A) dengan substrat Diamino benzidine (DAB).

Sel-sel darah putih dipisahkan dari sampel darah total dengan pemusingan. Bufycoat ditampung dan diisolasi limfosit dilakukan dengan ficoll-paque gradient dengan pemusinangan pada 3000 rpm selama 30 menit. Data hasil pengamatan dianalisis dengan chi-square.

Hasil penelitian menunjukkan ekspresi fenotifik antigen limfosit sapi (BoLA) dapat dideteksi pada limfosit sapi bali maupun sapi madura, dengan ekspresi yang tidak berbeda nyata (P>0,05). Penelitian ini dapat dipakai sebagai dasar dalam penelitian pemetan genom tentang peranan masing-masing gen BoLA, dalam menentukan kerentanan sapi bali terhadap penyakit jembrana.

Kata kunci : sapi bali, antibodi monoklonal, imunositokimia